Waalaikumsalam, Saudara yang dimuliakan Allah Swt,
Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah ta’aala telah tentukan bisa berubah. Dan faktor yang dapat mengubah taqdir ialah doa seseorang.
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)
Takdir merupakan suatu hal yang telah ditentukan oleh Allah semenjak zaman azali atau zaman sebelum menciptakan sesuatu di “Lauhul mahfudz” yang berkenaan dengan nasib dan perjalanan hidup seseorang. Dalam kaitannya dengan takdir mutlak adalah seperti jodoh, mati, dan rizki seseorangyang telah di tentukan oleh Allah Yang Maha Esa.
Takdir adalah ketentuan Allah terhadap segenap makhluk sesuai dengan ilmu-Nya terhadap segala sesuatu itu sejak sebelumnya, serta sesuai dengan hikmah Nya.
Sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.
Firman Allah yang Artinya : Dan kamu sekalian tidak berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. (Al-Insan : 30)
Allah telah menetapkan nasib dan takdir seseorang namun manusia tetap dituntut untuk berupaya semaksimal mungkin untuk berubah dan kondisinya, dan perubahan itubisa diupayakan atas kuasa ilahi dan ridho dari-Nya meskipun nasib dan suratan takdir telah tertulis.
Dalam aliran Ahlusunnah Waljamaah terdapat aliran Asyariyah yang bersikap tengah-tengah. Allah menciptakan kemampuan dana kemauan si hamba yang keduanya berperan dalam berlangsungnya perbuatan. Sehingga dengan demikian, maka perbuatannya itu makhluk Allah.
Bahwa manusia tetap dituntut untuk berupaya seoptimal mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik, baik di dunia maupun di akhirat dengan seimbang tanpa melupakan sisi pasrah dan tawakal manusia terhadap tuhan. Namun perlu digaris bawahi bahwa pasrah disini bukan berarti bersikap fatalisyang hanya menunggu perubahan dari Allah atau bertindak sesuatu yang irasional. Ada sisi upaya manusia dan interprestasi tuhan untuk menetapkan sesuatu terjadi atau tidak, semua sangat tergantung dari optimalisasi usaha manusia dan keridhaan ilahi.
Seperti dalam firman Allah :
Yang Artinya : Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu mengubah keadaan dirinya (Qs Ar-Ra’)
Mudah-mudahan bisa di fahami